Laman

Kamis, 19 November 2009

Hubungan antara Gaya Hidup dengan Perilaku Konsumen

Dalam kaitanya dengan pendefinisian gaya hidup (kotler,2001:210) memberikan definisi yang lebih terinci dengan mengatakan bahwa:

Gaya Hidup adalah Pola hidup seseorang yang tergambarkan pada psikografisnya. Pola hidup seseorang yang tergambarkan pada activities, interest, dan opinions (AIO). Activities/kegiatan (pekerjaan, hobi, belanja, olahraga, kerja sosial). Interest/minat (makanan, mode, keluarga, rekreasi). Opinions/pendapat (tentang diri mereka sendiri, isu-isu sosial, bisnis, produk).

Menurut (kotler,2001:235) ada empat faktor utama yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen yaitu: budaya, sosial, pribadi, dan psikologi. Budaya meliputi nilai yang dipelajari seseorang melalui keluarga atau instansi lainnya. Faktor sosial /kelompok acuan secara kuat mempengaruhi pilihan produk dan merek. Gaya hidup konsumen-seluruh pola tindakan dan interaksi di dunia-juga merupakan pengaruh yang penting bagi keputusan pembelian. Terakhir, perilaku pembelian dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama-motivasi, persepsi, pembelajaran, dan sikap.

Pada tahun 2009, pengguna batik telah menurun. Persepsi umum pada saat itu batik digunakan untuk kegiatan resepsi pernikahan atau dikalangan kerajaan di Jawa Tengah khususnya. Pertengahan tahun 2009 batik telah diakui sebagai warisan dunia oleh Unesco. 12/09/2009 penulis mendapat E-mail dari Lingkar Pelajar Bogor. Yang isinya seperti ini,

United Nations Education Social and Cultural Organizaion(UNESCO) menetapkan batik sebagai bentuk budaya bukan benda warisan manusia atau UNESCO representative list of humanity. Tanggal 2 Oktober nanti, bakal dipatenin klo batik itu milik Indonesia.. yeahsss! Jadi negara tetangga gakan ngaku2 lagi klo batik punya mereka…

Proses peresmian batik sebagai warisan budaya bukan benda itu berlangsung pada 28 September hingga 2 Oktober di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

“Presiden meminta 2 Oktober nanti masyarakat Indonesia memakai batik sebagai bentuk penghargaan terhadap batik,”

Kata Menkesra Aburizal Bakrie pokoknya tetap bangga ya jadi orang Indonesia Ok =)

Pengakuan batik sebagai warisan budaya bukan benda itu bukan saja populer, tetapi juga sukses-tidak hanya menghentikan penurunan, melainkan juga merangsang peningkatan. Walau pasar sasaran awal adalah Pria Dewasa di usia duapuluh tahunan, pengakuan tersebut meluas ke pasar sasaran lainnya dan mendapatkan popularitas diantara para remaja. Para remaja mengumpulkan teman-teman mulai dari teman sekolah, sampai dengan teman di jejaring sosial seperti facebook. (Presiden meminta masyarakat indonesia memakai batik sebagai bentuk penghargaan terhadap batik). Karena kesuksesan pengakuan tersebut, Karyawan banyak yang menggunakan batik pada hari jumat dan juga mahasiswa.

Referensi:

Kotler, Philip & Armstrong, 2001. Dasar-dasar Pemasaran, PT Indeks Kelompok GRAMEDIA

Tidak ada komentar: