Laman

Kamis, 25 Februari 2010

Pemrosesan Just-In-Time


Fakultas Ekonomi

Universitas Gunadarma

10207574 IQBAL ALQAYYUM SYAH

11207359 RICKY ADITYA ISKANDAR

11207076 TAQDIR EDY WIBOWO

 

1.      Pendahuluan

Membedakan pemrosesan just-in-time dengan praktek manufaktur konvensional. Filosofi pemrosesan JIT menitikberatkan pada pengurangan waktu, biaya, dan rendahnya kualitas dalam pemrosesan. Ini diselesaikan dengan menggabungkan fungsi pemrosesan ke dalam pusat kerja, pembebanan biaya penetapan overhead secara langsung ke sel kerja, melibatkan karyawan dalam upaya perbaikan proses, mengeliminasi aktivitas yang tidak berguna dan mengurangi jumlah persediaan barang dalam proses yang dibutuhkan untuk memenuhi target produksi.

Pemrosesan Just-in-time (JIT) adalah filosofi baru yang menitikberatkan pada pengurangan waktu dan biaya serta mengeliminasi kualitas yang buruk.

2.      Pembahasan

Dalam proses produksi tradisional, suatu produk bergerak dari proses ke proses bila setiap fungsi atau langkah telah diselesaikan. Setiap pekerja telah diberikan tugas tertentu yang dilaksanakan berulangkali setiap menerima produk yang belum selesai dari departemen sebelumnya. Sebagai contoh, produsen mebel mungkin menggunakan tujuh departemen produksi guna melaksanakan fungsi operasi memproduksi mebel.

Pemrosesan dimulai dari Departemen Pemotongan, di mana kayu akan dipotong dengan desain khusus. Kemudian Departemen Pemboran melaksanakan fungsi member, setelah itu Departemen Penghalusaan akan menghaluskan kayu, Departeman Pewarnaan akan memberi warna pada mebel, dan Departeman Pelapisan akan mengoleskan pernis serta lapisan pelindung lainnya. Selanjutnya, Departemen Upholstery akan menambah kain dan bahan baku lain. Akhirnya, Departemen Perakitan akan merakit mebel untuk penyelesaian proses produksi.

Dalam proses produksi tradisional, supervisor produksi berupaya memasukkan bahan secukupnya ke dalam proses agar departemen produksi terus beroperasi. Namun, beberapa departemen dapat memproses bahan lebih cepat dari yang lain. Sebagai tambahan, jika satu departemen menghentikan produksi karena mesin rusak, misalnya, maka departemmen sebelumnya bisasanya terus melanjutkan produksi untuk menghindari waktu menganggur. Ini akan mengakibatkan bertambahnya pekerjaan dalam beberapa departemen. Lebih jauh lagi, jika terjadi kemacetan, seluruh lini produksi akan berjalan lambat atau berhenti karena produk yang belum jadi tidak dapat melalui departemen berikunya..

Dalam sistem just-in-time, fungsi pemrosesan digabungkan dengan pusat kerja, kadang-kadang disebut juga dengan sel manufaktur (manufacrturing cells). Sebagai contoh, tujuh departemen yang diilustrasikan di atas untuk produsen mebel dapat direorganisasi menjadi tiga pusat kerja. Pusat Kerja Satu akan melaksanakan fungsi pemotongan, pemboran, dan penghalusan. Pusat Kerja Dua akan melaksanakan fungsi pengecatan serta pernis, dan Pusat Kerja Tiga akan melaksanakan fungsi pelapisan dan perakitan.

Dalam lini produksi tradisional, seorang pekerja secara khusus melaksanakan hanya satu fungsi. Akan tetapi, dalam suatu pusat kerja di mana beberapa fungsi dikerjakan dalama satu tempat, para pekerja seringkali dilatih silang untuk melaksanakan lebih dari satu fungsi. Penelitian menunjukkan bahwa perkerja yang melaksanakan beberapa fungsi produksi menghasilkan produk akhir yang lebih baik. Ini mencipatakan harga produk yang rendah dan meningkatkan kualitas serta produktivitas.

3.      Kesimpulan

Secara singkat, manfaat utama dari sstem JIT adalah meningkatkan efisiensi operasi, yang dicapai dengan mengeliminasi sisa bahan (sampah) dan menyederhanakan proses produksi. Pada saat yang sama, sistem JIT menekankan perbaikan yang berkelanjutan dalam proses produksi. Pada saat yang sama, sistem JIT menekankan perbaikan yang berkelanjutan dalam proses produksi dan peningkatan kualitas produk.

Referensi:

1.      Rollin C. Niswonger, Carl S. Warren, James M. Reeve, Philip E.Fess : alih bahasa, Alfonsus Sirait, Helda Gunawan. Prinsip-prinsip Akuntansi, Jakarta : Erlangga, 2000

Tidak ada komentar: