Laman

Senin, 13 Februari 2012

Cara Melahirkan Suku Dayak

Ijal lahir dan bersekolah di jambi menyelesaikan kuliah fakultas pertanian di Universitas Jambi dan sekarang bekerja di Kalimantan Barat. Sebenarnya ijal masih ‘ trauma’ jika mendengar dan akan melihat seorang ibu melahirkan dikarenakan ada pengalaman pahit yang masih membekas dalam hidup ijal dimana 2,5 tahun yang lalu meninggal dunia saat melahirkan anak pertama kami dan menurut istilah kedokterannya almarhum istri ijal terkena “meninggal karena Post Parfum Bleeding + Inversio Uteri” . Ijal mengikuti semua proses yang terjadi hingga istri ijal meninggal di saat di tangani oleh Dokter dan Paramedis. Apa yang akan ijal ceritakan dan ungkapkan hanyalah untuk memberikan pengalaman luar biasa disaat berada dalam suasana “melahirkan versi suku dayak” tanpa melibatkan medis dan kedokteran.

Saat ijal berkunjung di salah satu keluarga Suku dayak di pedalaman Kalimantan Barat tiba-tiba ada salah satu keluarga yang mau melahirkan dan suaminya meminta tolong dengan ijal untuk meminjam motor ijal karena mau memanggil “dukun kampung” untuk membantu melahirkan setelah setengah jam berlalu sang suami datang bersama “sang dukun” dari “lako” atau ladang, alangkah terkejut ijal melihat fisik seorang dukun beranak ternyata seorang laki-laki dengan umur kira-kira 70 tahun walau keliatan renta namun tampak masih kuat. Saat sampai “sang dukun” memegang perut ibu yang mau melahirkan dan tiba-tiba berkata ‘kira-kira 1 jam lagi akan melahirkan”, sambil menunggu akan melahirkan maka sang dukun menyuruh suami dari pihak ibu yang akan melahirkan untuk mendatangkan seorang perempuan untuk membantunya dalam proses melahirkan dan perempuan ini akan diajarkan dan “mewarisi”(dijadikan murid) kemampuan sang dukun dalam membantu proses kelahiran.

Setelah 1 jam berlalu sang dukun menyuruh ibu yang akan melahirkan untuk duduk bersila “seperti meditasi yoga” dengan tangan di lipat di dada sambil di suruh mengejan kemudian setelah sekitar 15 menit sang ibu disuruh setengah berbaring sambil disuruh kedua kaki di tekuk atau “posisi akan melahirkan” kemudian perutnya diurut dan dibantu oleh muridya setelah itu ibu disuruh mengejan dan dengan hanya dengan mengejan sebanyak 2 kali lahirlah seorang anak bayi berkelamin laki-laki namun sebelum melahirkan ibu tersebut di minumkan “air kelapa muda” kira-kira setengah jam sebelum melahirkan. Kemudian tali pusar dipotong dengan ” rotan tajam yang berbentuk pisau kecil” dan tali pusar di gulungkan dan dan ikat dengan sejenis “tali dari kayu hutan kalimantan” yang lebih di kenal dengan nama “tali dari pohon puduk”. Setelah melahirkan sang ibu di beri semacam “stagen” atau bagian perut diikat dengan “tali puduk yang lebar” melingkar dan diikatkan dibagian belakang, setelah itu ibu dan bayi di usapkan sejenis “jahe hutan berwarna merah” dimuka dan perut yang memberikan efek hangat kepada ibu dan bayi, proses melahirkan ini terjadi pada malam hari dan setelah semua proses melahirkan selesai ijal memberanikan diri untuk bertanya kepada sang dukun “kek sudah berapa banyak membantu melahirkan” sang dukun menjawab “sudah banyak,sudah ratusan kali ijal dukun sejak usia muda” dan kemudian ijal bertanya lagi “ada tidak yang meninggal Ibu dan anak saat kakek membantu melahirkan?” . sang dukun menjawab “tidak ada semua selamat”.Keesokan pagi harinya ijal berkunjung membawakan bedak bayi dan minyak telon untuk sang ibu dan betapa terkejutnya ijal melihat sang ibu yang melahirkan tersebut kira-kira berumur 45 tahun telah berdiri dan menjemur pakaian bayi yang telah di cuci diluar rumah, setelah memberi “buah tangan” untuk bayi, ibu tersebut menjelaskan kepada ijal bahwa “stagen” dari tali kayu lebar yang di pakainya sampai kira-kira 15 -30 hari setelah melahirkan, dan kalau makan sayuran dimasak bening “harus di beri ubi dan pisang raja” serta ditambah pucuk daun ‘baba dan kaman’ sambil memperlihatkan kedua pucuk tersebut dan harus di makan selama 15- 30 hari dan di larang memakan semua ikan laut, ikan yang diberi batu es, hanya boleh memakan ikan sungai yang ukuran kecil dan sedang saja, kalau ikan sungai yang ukuran yang besar hanya boleh dimakan bagian tengah saja tidak boleh kepala dan bagian ekor, hal ini untuk mempercepat pemulihan kondisi ibu setelah melahirkan.

Apa yang ijal lihat dan jalani tiba-tiba mengubah persepsi ijal tentang proses melahirkan ternyata ada yang tradisonal atau non medis yang begitu mudah dan sederhana. Ijal bukanlah ahli di bidang kedokteran sehingga ijal tidak bisa menjelaskan korelasi yang baik dengan dunia medis. Namun dua kata yang tidak terucap hanya dalam hati ” LUAR BIASA”.

Referensi:
http://kesehatan.kompasiana.com

Tidak ada komentar: