Laman

Sabtu, 22 Juni 2013

Apartemen Udang Galah


CIBINONG — Coba tanya kepada Fauzan Ali tentang tip memelihara atau merawat hewan peliharaan. Jawabannya sederhana: pakai hai. Itu sebabnya ia membuatkan apartemen untuk udang-udangnya. "Apartemen menambah prestise," kata Fauzan.
Ini memang bukan apartemen sungguhan yang menjulang mencakar awan. Apartemen udang galah kreasi Fauzan, ahli fisiologi budidaya perairan di Pusat Penelitian Limnologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ini hanyalah konstruksi dari belahan-belahan bambu yang ditanam di kolam udang. Hampir seluruh luas kolam atau 80 persen luasnya diisi dengan apartemen bambu itu.
Tujuannya cuma satu: menam­bah kepadatan populasi udang di tiap kolam yang selama ini selalu "mentok" hanya 10 ekor per meter persegi. Lebih dari tujuh tahun lalu, Fauzan penasaran kenapa upaya para petani udang yang ingin mengatrol produksi dengan cara memperbanyak jumlah udang ga­lah yang dipelihara di tiap kolam selalu berujung sia-sia.
"Dibuat sebagus apa pun koamnya, sebaik apa pun kualitas airnya, dan sebanyak apa pun pemberian pakannya, tetap saja kepadatan udang hanya 10 ekor per meter persegi," tutur Fauzan. Dengan angka itu, produksi rata-rata yang didapat praktis hanya satu-dua ton per hektare atau 200 kilogram tiap seribu meter persegi.
Udang memang berbeda dengan bangsa ikan umumnya. la tidak memiliki sirip, tapi hanya mempunyai kaki untuk berenang. Udang tidak bisa berenang bebas tapi hanya hidup terbatas di dasar kolam ataupun dinding. Itu sebabnya kepadat­an udang, seberapa pun dalamnya kolam yang dibuat, sangat terbatas.
Tapi, Fauzan terus berpikir tentang cara agar kolom air di atas punggung udang juga bisa dimanfaatkan. Pikiran itulah yang selalu ada dalam benaknya. Pikiran itu muncul gara-garanya ia melihat praktek petani yang memberikan dedaunan dan ranting-ranting bambu di permukaan kolam berisi udang belia atau pascalarva. Fau­zan mencermati fenomena udang yang bisa "hinggap" di sana.
Padahal, Seperti yang diungkap Gunawan, Kepala Laboratorium Produktivitas Perairan Darat di pusat penelitian yang sama, tujuan si petani mungkin sekadar meme-nuhi persepsi "udang di balik batu". Selain itu juga untuk mengu-rangi beban terik dari matahari dan melindungi udang dari pencu-rian menggunakan jala.
"Mereka tidak pernah memperhatikan kalau udang-udang yang bertengger di dekat permukaan air itu justru merasa nyaman karena bisa melakukan prosesi ganti kulit (molting) tanpa perlu merasa terancam," tutur Gunawan. "Kalau nyaman, udang bisa ganti kulit te­rus dan cepat besar," Gunawan menambahkan.
Saat itu 2001, dan begitulah ide membuat apartemen udang mun­cul di benak Fauzan. la dan Guna­wan lalu mulai berkreasi. Tentu sa­ja tidak langsung berhasil. Selain dengan ranting dan dedaunan, a walnya mereka juga berkreasi de­ngan menggunakan pelepah serta daun pisang. Tapi mereka lalu sadar bahwa hasil kreasinya itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.
"Kolam malah menjadi kotor dan mengundang ular bersarang," ujar Fauzan. "Selain itu, arus dalam kolam juga terhambat dan kandungan oksigen terlarutnya turun sehingga udang mudah mati," Fauzan menambahkan.
Butuh dua tahun hingga akhirnya Fauzan yang termasuk da-lam 100 inovator terpilih pada Ha-ri Kebangkitan Teknologi Nasional 2008 lalu menemukan ide aparte­men berbahan bambu itu.
Kini, Fauzan bahkan sudah memiliki formulasi paling pas: apar­temen seluas satu meter persegi yang setiap kamamya berukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm dan diisi dengan 30 ekor udang. "Ini kerapatan yang pa­ling optimal," tutur Fauzan.
Menurut Fauzan, tanpa apartemen, dari 30 ekor udang yang ditebar, sebulan kemudian yang tersisa hanya separuhnya. "Tapi dengan apartemen, 30 ekor udang itu aman-aman saja," kata dia.
Selain terbukti membuat pertum-buhan udang lebih cepat karena ruang hidupnya lebih leluasa, udang-udang juga mendapat sumber makanan baru
yang alami dari bambu. "Kalau tidak ada udangnya, lumut di bambu ini te-bal. Tapi ini bersih," katanya sambil menunjuk sebuah akuarium di laboratorium kantornya.
Gunawan menambahkan, udang-udang yang hidup di atas bambu otomatis terhindar dari lumpur yang ada di dasar kolam sehingga lebih bersih dan mudah diterima pasar. Dan yang tidak kalah penting adalah udang-udangnya jadi lebih memiliki waktu untuk "bersolek". "Lihat saja gerakan kakinya udang-udang itu. Mereka sedang inembersihkan dirinya sesudah makan," tutur Fauzan sambil menun­juk seekor udang di atas bilah bambu. Di kolam-kolam uji cobanya, Fauzan dan Gunawan menyaksikan bahwa pemberian apartemen pada akhirnya bisa melipattigakan produksi di saat panen menjadi 6-9 ton tiap hektare. "Ini jelas sangat menguntungkan," ka­ta mereka sambil menambahkan bah­wa metode ini sudah menyebar sampai ke Pulau Belitung. • wuragil



Apartemen Udang Galah

- Bambu yang digunakan harus direndam dulu selama seminggu agar getah-ge-tahnya keluar. Bambu segar sebenar-nya bisa langsung ditanam, tapi udang-udang akan membutuhkan waktu agak lama sebelum mau menghinggapinya.

- Bambu bisa lapuk dalam dua tahun. Harus diganti.

- Ukuran kamar yang 20 cm x 20 cm x 20 cm disesuaikan dengan ukuran tu-buh udang yang nantinya siap dipanen. Pasar biasanya menginginkan udang yang tiap kilogramnya berisi tiga ekor udang. Bobot itu bisa dicapai udang pascalarva dalam waktu enam bulan.

Tidak ada komentar: