Laman

Sabtu, 22 Juni 2013

Problem Air di Ibu Kota

“Mari hemat air” Demikian seruan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam memperingati Hari Air se-Du-nia ke-17 yang jatuh pada Ahad (22/3). Seruan penghematan air itu dilakukan sambil pemprov berikhtiar memperbaiki kondisi air tanah dengan teknologi "bioretensi". Perusa-haan swasta pun
melihat kondisi mempriha-tinkan itu sebagai peluang.Gerakan penghematan air yang ditabuh di belantara batu Ibu Kota dilatarbelakangi kian menurunnya kuantitas dan kualitas air. Itu terjadi menyusul kian banyaknya permukaan tanah yang tertutup bangunan dan jalan, membuat air sulit mencari tempat meresap. Pada saat bersamaan, air tanahnya terus di-pompa.untuk memenuhi kebutuhan jutaan warganya. Berkurangnya tempat meresap dan pemompaan yang tanpa henti berimplikasi pada dua hal. Selain semakin menurunnya kuanti¬tas air tanah di wilayah seluas 661,52 kilo¬meter persegi itu, juga memberi andil pada terjadinya banjir besar yang beberapa kali ter¬jadi di DKI. Karena ketidakseimbangan sudah terjadi, penggunaan air tanah di DKI pun semakin tak dianjurkan, karena air tanahnya sudah mengalami penurunan kualitas yang parah. Antara lain, karena cemaran bakteri Escheri-chia coll. Bakteri dari produk usus manusia ini merembes dari septic tank dan mence-mari air tanah, atau cemaran dari berbagai logam berat.
Penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) DKI pada 2008 lalu mendapati persentase air tanah yang layak dikonsumsi di lima wilayah DKI terus menyusut. Di Jakarta Utara, hanya 13 persen; Jakarta Barat, tujuh persen; Jakarta Pusat, sembilan persen; Jakarta Selatan, 35 persen; dan Jakarta Timur, 30 persen.

Bioretensi

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengungkapkan Pem-prov DKI memiliki upaya baru untuk memperbaiki kondisi air tanah dan mengurangi dampak banjir di Jakarta dengan pembuatan sumur bioretensi. Tapi, dia mengingatkan, upaya ini perlu kontribusi masyarakat secara luas. Sebelumnya, Pemprov DKI telah menggalakkan program biopori. Program ini, ungkap Fauzi, diawali penelitian Institut Per-tanian Bogor (IPB). IPB memperkenalkan teknologi biore¬tensi sebagai salah satu alter-natif teknologi untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya, dengan me-ngendalikan air limpasan seka-ligus memanen air hujan di musim kemarau. Teknologi ini sudah mulai diterapkan. "Bioretensi merupakan teknologi aplikatif yang meng-gabungkan unsurtanaman, green water (air yang tersimpan di pohon-Red) dan blue water (air mata air, sungai, dan danau-Red) dalam suatu bentang lahan dengan semak-simal mungkin meresapkan air ke dalam tanah," papar dosen Fakultas Kehutanan IPB, Nana M Arifjaya. Langkah ini dilakukan agar selama mungkin air berada di daerah aliran sungai (DAS) dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Menurut Nana, sekitar 44,91 persen atau 28.902 hektare lahan di DKI Jakarta mampu meresapkan air dengan baik. "Bisa dikatakan ini menjadi busa raksasa yang siap menyimpan air. Masalahnya, luasan lahan tersebut sudah tertutup bangunan maupun aspal," kata Nana. Dengan rata-rata curah hu-jan di DKI Jakarta yang menca-pai 2.000 mm pertahun, pemanfaatan teknologi bioreten-si pada lahan tersebut mampu menyimpan 578,34juta meter kubik air per tahun atau 1,6 juta meter kubik per hari. Ini cukup untuk memenuhi keper-luan domestik sekitar 7,9 juta masyarakat perkotaan. Sumur bioretensi bisa dibuat di halaman rumah, selokan, trotoar, taman, lahan parkir, dan gang-gang sempit yang padat penduduk. Teknologi bioretensi diaplikasikan dalam bentuk sumur resapan sedalam 2,7 meter. Cara pembuatannya cukup sederhana, yaitu dengan menggali tanah seluas minimal satu meter persegi dengan kedalaman' 2,7 meter. Bagian dasar sumur diisi batu kali dan ijuk setinggi 1,7 meter untuk menahan fondasi. Kemudian di setiap sisi dinding sumur bagian atas dipa-sang buis (cetakan beton satu meter persegi dengan empat lubang). Dalam iubang buis dimasukkan batu kali dan ijuk untuk menghindari masuknya sedimen tanah ke dalam sumur. Kemudian, lubang sumur ditutup dengan cetakan beton dan ditutup lagi dengan tanah.

Jualan

Di saat kualitas dan kuanti-tas air tanah di DKI terus me-nurun, di saat pemerintah dan kalangan akademisi menerap-kan berbagai upaya untuk mengatasinya, bisnis air jalan terus. PT Aetra Air Jakarta-mitra swasta Perusahaan Daerah Air Minum Jakarta (RAM Jaya), justru menargetkan menambah 15 ribu jaringan pelanggan. Jika target ini terpenuhi, maka jumlah pelangan Aetra pada akhir tahun akan mencapai 395 ribu pelanggan. "Selain meningkatkan layanan pelanggan yang selama ini tidak mendapat air, juga mencari pelanggan baru, terutama pelanggan besar," ungkap Direktur Utama PT Aetra Air Jakarta, Syahril Japarin. Syahril menegaskan, PT Aetra terus mengupayakan peningkatan kualitas. Sepan-jang 2008 lalu, Aetra berhasil memperbaiki volume air men-capai tiga juta meter kubik dari 121 juta meter kubik tahun 2007 menjadi 124 juta meter kubik tahun 2008. Selain itu, kata Syahril, tepat satu tahun pergantian nama dari Thames Pam Jaya (TPJ) menjadi Aetra Air Jakarta tanggal 15 April, pihaknya akan meresmikan pemasangan booster pump berkapasitas 1.000 liter/detik di Tugu Cilincing, Jakarta Utara. "Pompa senilai Rp 5 miliar tersebut sama dengan kapasitas PDAM Kota Pontianak." Aktivis Forum Warga Jakarta (Fakta), Tubagus Haryo Karbyanto, mengingatkan pengelolaan pelayanan publik yang besifat sosial seperti penyediaan air minum jangan hanya berorientasi mengejar keuntungan semata. "PDAM harus diposisikan sebagai unit operasional negara dalam merealisasikan Pasal 5 UU No 7/2004 tentang Sumber Daya Air," katanya. Pasal tersebut menegaskan bahwa negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih, dan produktif.
 
Oleh:
(Yogi Ikhwan, Warastuti)
Republika,  Selasa 24 Maret 2009, halaman 1

Tidak ada komentar: