Laman

Sabtu, 22 Juni 2013

Teknologi Pembersihan Air Di Lubang Bekas Tambang Yang Tercemar Logam Berat

Dari 7langit, Pulau Bangka tampak bopeng-bopeng. Kolam berair biru, besar dan kecil, bertebaran di penjuru pulau. Itulah kolam bekas penggalian tambang timah.

Bumi Bangka adalah salah satu penghasil timah di negeri ini. Perusahaan besar atau industri rumahan berlomba-lomba mengeruk bumi dan mengangkat komoditas itu.

Yang tersisa adalah kolam-kolam galian yang kelak menjadi danau lantaran dipenuhi air hujan. Kolam ini oleh masyarakat sekitar disebut "kolong".

Ke kolong-kolong itulah Cynthia Henny "terjun" sejak setahun silam. Peneliti dari Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu berhasil mendesain teknologi pembersihan air kolong yang umumnya tercemar logam berat.

Pembukaan lapisan tanah dalam proses penambangan telah membuat mineral di dalam tanah terbuka. Akibatnya, kata Cynthia, terjadi oksidasi mineral sulfida (pirit-FeS2) yang membawa kandungan-kandungan logam berat berbahaya, seperti timah hitam (Pb), seng (Zn), bahkan arsenik.

Selain itu, pH air di dalam kolong umumnya rendah alias asam. Karena itu, air di kolong tersebut tak layak dikonsumsi atau dipakai untuk kebutuhan manusia.

Berdasarkan kadar kandungan kimianya, kolong terbagi menjadi kolong muda dan tua. Kolong muda adalah kolong yang baru saja digali, terdiri atas kolong yang mengandung mineral dasar kaolin, kaya aluminium dan silika (pH 4), serta kolong pirit yang kaya dengan besi dan sulfat (pH 2).

Demikian pula kolong tua, terdiri atas kolong kaolin yang rendah kadar logamnya (pH >6) serta kolong pirit yang masih mengandung logam berat meski kadarnya tak sebanyak kolong muda pirit (pH >4). Secara alami, kolong-kolong itu bisa merehabilitasi dirinya sendiri dalam kurun waktu 20-30 tahun.

Masyarakat Bangka umumnya memanfaatkan kolong untuk berbagai keperluan. Ada yang mempercantik kolong sehingga menjadi salah satu kawasan wisata. Namun, tak jarang pula yang memanfaatkannya sebagai lahan perikanan dan peternakan.

Kandungan logam berat dan keasaman air di kolong, kata Cynthia, membuatnya tak layak dijadikan lokasi perikanan dan peternakan. Karena itu, Cynthia dan timnya telah meneliti kemungkinan meningkatkan kualitas air di kolong.

Setelah penelitian, yang dimulai pada April 2006, tim itu berhasil menemukan dua teknologi peningkatan kualitas air kolong, yaitu in-situ treatment dan passive treatment.

In-situ treatment, kata Cynthia, adalah cara paling sederhana, yakni dengan mencemplungkan kapur langsung ke kolong. Kapur ini bisa mengurangi kadar logam-logam berat di kolong tersebut. Kapur bisa meningkatkan pH air dan menghambat proses oksidasi besi dan pelepasan logam ke air (metal leaching).

Passive treatment adalah pengolahan air dengan menggunakan beberapa kolam, yaitu settling pond atau kolam penampungan sedimentasi, kolam anoxic limestone drain (ALD), kolam rawa buatan, dan kolam penampungan terakhir.

Kedua cara itu telah diuji di laboratorium. Untuk cara in-situ, kapur dicemplungkan ke air dan ditambah media kimia, seperti bentonit atau kompos, untuk meningkatkan efisiensi kapur. Dalam sepekan, pH air meningkat dari 3 menjadi 7. Kandungan Fe pun menurun sampai 95 persen.

Adapun cara passive, tim peneliti membuat beberapa bak kecil yang berfungsi sebagai bak sedimentasi, bak ALD, rawa buatan dalam skala kecil, serta penampung hasil akhir. Melalui cara ini, pH air ternyata meningkat dari 3 menjadi 6.

Di Bangka, Cynthia dan empat peneliti lainnya meneliti 40 kolong berbagai ukuran di beberapa kabupaten. Sebanyak 30 kolong ternyata mengandung logam berat dan 50 persen di antaranya terbilang tinggi kandungannya.

Salah satu yang tinggi itu ada di Sungai Liat. Kolong ini mengandung air dengan pH 2,5 sampai 2,7. "Tambangnya pun masih aktif," kata perempuan berkerudung itu di Jakarta, Senin lalu.

Di sinilah tim dari LIPI tersebut membangun pilot project berupa bak-bak berukuran masing-masing 3 x 3 meter. Proyek ini sanggup mengalirkan air sebanyak 250 liter per hari.

Air dari kolong itu pertama kali dialirkan ke kolam settling pond. Di kolam ini, air akan tersedimentasi ke bagian dasar dan bagian permukaan dialirkan ke kolam ALD.

Di kolam ALD, kapur menetralisasi keasaman air sehingga seimbang dengan karbonat (alkalinitas), yang menghambat oksidasi logam dan menaikkan pH.

Dari kolam ALD, air mengalir ke dasar rawa buatan yang ditumbuhi tanaman air, dilapisi dengan kerikil di dasar, kompos, dan lapisan pasir. Air dialirkan dari lapisan paling bawah (kerikil) menuju ke permukaan.

Lapisan kerikil dan kompos itu meningkatkan pH air, mereduksi kandungan sulfat melalui mikroba, serta mengendapkan logam-logam berat.

Menjelang permukaan, air akan disaring kembali oleh akar tanaman air. Tim memilih purun, tanaman lokal yang wujudnya seperti rumpun padi atau ilalang.

Cynthia mengatakan, purun tahan terhadap pH rendah dan bisa menyerap logam seperti Fe. Akarnya juga menstimulasi mikroba yang akan meningkatkan kandungan organik di bagian bawah akar.

Dari akar, air naik ke lapisan pasir yang membuat kandungan logam semakin terkikis. Alhasil, "90 persen logam berat hilang," ujar alumnus Universitas Missouri, Amerika Serikat, itu.

Air hasil penyaringan itu, kata Cynthia, siap dipakai untuk berbagai keperluan manusia, kecuali langsung diminum. Untuk konsumsi, dia menyarankan agar air dimasak terlebih dulu.

Passive treatment itu, kata Cynthia, terbilang sebagai teknologi terapan yang mudah aplikasinya. Teknologi ini tak memerlukan pompa air atau tenaga listrik. Air cukup dialirkan dengan memberikan lerengan (slope).

Masyarakat, ujar Cynthia, umumnya menyambut teknologi tersebut, tapi belum tersosialisasi dengan baik lantaran sulitnya medan untuk menjangkau mereka. "Apalagi kalau musim hujan, sungguh sulit. Mobil yang mencoba masuk malah amblas di pasir," ujarnya.

Padahal sebagian besar masyarakat mulai menyadari bahwa kolong bisa memberikan manfaat ekonomi, terutama melalui sektor pariwisata, peternakan, dan perikanan. Namun, mereka kurang menyadari bahaya jangka panjang akibat keasaman air dan kandungan logam beratnya.

Teknologi ini juga bisa dimanfaatkan oleh industri pertambangan untuk memperbaiki kualitas limbahnya sebelum dibuang ke sungai atau laut. "Kami sedang meneliti untuk memanfaatkannya bagi industri penyamakan kulit," kata Cynthia.

2 komentar:

Indonesiaplus mengatakan...

Infonya sangat....sangat menarik dan berharga bagi kami di Bangka Belitung. sayang tidak ada gambar prosesnya! atau barangkali ada nomor kontak Ibu Cynthia dkk? minta tolong kirimkan ke email saya, thanks!

Puspitasari Kurbani mengatakan...

Misi mbak mau tanya.
Diartikel atas dijelaskan tatacara passiv treatment.
Bagai mana dengan proses in-situ treatment.diatas hanya dijelaskan sekilas.
Kalau bisa dan mbak berkenan tolong dijelaskan lebih rinci lagi.Kapur yang dicempulngkan harus berapa banyak dengan bobot air berapa liter.Terimakasih mbak.
Maaf merepotkan :)