Laman

Senin, 15 Juli 2013

Pupuk Organik

Untung Saparudin, seorang petani Lampung, lulusan sekolah dasar ini mengembangkan pupuk organik dengan bahan limbah pertanian di desanya. Berkat pupuk tersebut, hasil panen meningkat hampir dua kali lipat. Selain murah pupuk ini juga tanpa mengandung efek samping.

Liputan6.com, Kotabumi, Lampung Utara : Seorang petani Lampung mampu mengembangkan pupuk organik dengan bahan limbah pertanian di desanya. Berkat pupuk itu, hasil panen meningkat hampir 2 kali lipat. Inilah Untung Saparudin, salah satu kandidat Liputan6 Awards 2013.
Untung tinggal di Dusun Empat, Ulak Rengas, Kota Bumi, Lampung Utara. Dusun ini tak banyak berbeda dengan desa-desa lain di Tanah Air. Sebagian besar warga hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Kopi dan lada, adalah produk unggulan setempat. Sehingga bisa diduga, warga kawasan ini sangat bergantung pada pupuk.
Keluhan utama para petani adalah harga pupuk yang bisa melambung tinggi. Situasi ini memicu Untung mencari alternatif. Dilandasi pengalaman bertani, pria yang sekolah hingga kelas 2 sekolah dasar ini mencoba membuat pupuk.
Keterbatasan sekolah formal tak menjadi halangan bagi Untung. Sekitar 2001, dia bertekad menghasilkan pupuk dari limbah pertanian yang tersedia melimpah di sekitar. Akhirnya, Untung menemukan pupuk organik cair yang dia sebut sebagai mikro organisme lokal (mol). Pupuk mol terbukti punya berbagai kelebihan.
Harga Ringan Tanpa Efek Samping
Awalnya, pupuk karya Untung ini tidak langsung diterima masyarakat. Tapi bukti akhirnya berbicara. Semakin banyak petani berminat belajar cara membuat mol setelah terbukti hasil tanaman lebih subur tanpa ada efek samping.
Sekarang, Untung telah jadi tokoh inspiratif. Berbagai penghargaan telah diraih. Kini Untung dianggap mengharumkan nama daerah.
Karya Untung kini menarik perhatian para akademisi bidang pertanian. Banyak kalangan bertandang ke rumah Untung untuk menimba ilmu. Para petani setempat berharap karya Untung bisa terus dikembangkan.
Pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 58 tahun lalu ini, berharap pupuk karyanya bisa membantu sebanyak mungkin petani di seluruh pelosok Tanah Air.(Rmn/Ais)
Berlandas pada pengalaman bertani pria yang hanya lulusan SD kelas 2 ini mencoba membuat Pupuk. "Saya belajar pada alam, seperti kerbau dan sapi. yang lewat di antara pohon jarak setengah bulan dia subur. Kok bisa menyuburkan. Nah itu, berarti ada bakterinya disitulah aku belajar" kata Untung.

Keterbatasan sekolah formal tidak menjadi halangan. Pada tahun 2001 untung bertekad membuat pupuk dari limbah pertanian yang tersedia melimpah disekitar. "Karena kita berada di daerah lampung sudah tandus jadi bagaimana tanah ini kembali semula seperti jaman dahulu", ujar untung.
Langkah pembuatan Mikro Organisme Lokal
Bahan
  1. Air nanas 15 Liter. 
  2. Air beras 15 Liter.
  3. Air Gula 15 Liter
  4. Air Kelapa 15 Liter
Setelah itu kita campur jadi satu, kita fermentasi di dalam drum. Drum yang digunakan jangan drum besi. Drum plastik.Tutup rapat selama 7 sampai 21 hari. Air MOL siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan. Akhirnya untung menemukan Pupuk Organik cair yang dia namakan Mikro Organisme Lokal (MOL) terbukti mempunyai beberapa kelebihan
  1. Harganya lebih murah daripada pakai urea atau TSP dan tanpa efek samping.
  2. Daunnya hijau, segar, subur, dan buahnya cabang-cabangnya agak penuh, sebelumnya agak jarang.
  3. Setiap tahun bisa berbuah normal, berbuahnya bisa kontinyu setiap tahun.
 Untung Saparudin Kabupaten 562 mendapatkan Uang Rp. 300.000,-
pupuk-organik-sejahtera
kumpulan-tentang-mol
cara-bikinbahan-em4-menjadi-em5-dst
Studi mikrobiologi dan sifat kimia Mikroorganisme Lokal (MOL)

Tidak ada komentar: